Showing posts with label ulama ahlul bait. Show all posts
Showing posts with label ulama ahlul bait. Show all posts
Saturday, 16 June 2012
Ya Tarim wa Ahlaha
Suasana di Tarim, bumi para auliya' ahlul bait Rasulullah s.a.w
Labels:
sufi,
tempat bersejarah,
turath,
ulama ahlul bait,
video
Saturday, 26 May 2012
Pesanan Maulana Sayyid Abu Hassan Ali An-Nadwi pada Ikhwanul Muslimin
Oleh: Muhammad Al-Mahdi Abdullah
http://www.facebook.com/profile.php?id=100001071264294
http://www.facebook.com/profile.php?id=100001071264294
“Wahai Ikhwan Muslimin yang mulia! Sasaran dakwah al-din dan tajdid Islami (pembaharuan Islam) itu bukanlah mudah. Bukanlah tujuan dan tumpuannya untuk menukar kerajaan semata. Tidak jua untuk mengubah satu suasana politik kepada suasana politik yang lain. Tidak untuk menyebarkan pengetahuan dan ilmu, atau menghadapi buta huruf dan kejahilan, atau memerangi pengangguran, atau mengubati kecacatan masyarakat dan akhlak atau seumpamanya seperti yang diperjuangkan oleh para pejuang perubahan di Barat dan Timur. Sebaliknya, ia adalah seruan Islam yang merangkumi akidah dan akhlak, amalan dan siasah, ibadah juga keperibadian diri dan masyarakat. Ia meliputi akal dan jiwa, ruh dan jasad.
Maulana Sayyid Abu Hassan Ali An-Nadwi
Ia bergantung kepada perubahan mendalam dalam jantung hati dan jiwa, akidah dan akal… istimewanya dakwah dan kesungguhan para nabi ialah ketulusan mereka dari memikirkan kepentingan kebendaan, hasil yang segera. Mereka tidak mencari dengan dakwah dan jihad mereka melainkan keredhaan Allah. Melaksanakan perintahNya dan menunaikan risalahNya. Akal dan pemikiran mereka tulus dari amalan untuk dunia, mendapat kedudukan, menghasilkan kekuatan untuk keluarga dan pengikut, memperolehi kerajaan. Bahkan itu semua tidak pernah terlintas dalam fikiran mereka. Adapun kerajaan yang tertegak untuk mereka pada waktu mereka dan kekuatan yang diperolehi pada masa itu hanyalah hadiah daripada Allah. Ia sebagai jalan untuk sampai kepada matlamat agama, melaksanakan hukum-hakamnya, mengubah masyarakat dan mengarahkan kehidupan.…
Wahai tuan-tuan! Besarnya perbezaan antara matlamat yang dituju, dan natijah yang muncul. Perbezaan ini akan zahir dalam jiwa yang bekerja untuk itu. Maka, yang bertujuan mendapatkan kerajaan, akan hilang kesungguhan dan diam apabila tidak memperolehinya, atau hilang harapan mendapatkannya. Dia akan berhenti dari dakwah. Dia juga akan melampau jika berjaya.. Wajib kepada kita membersihkan akal dan jiwa kita, semata-mata untuk dakwah. Hanya dakwah, khidmat, pengorbanan, mengutamakan saudara muslim, mengeluarkan manusia dengan izin Allah daripada segala kegelapan kepada cahaya (Islam), dari jahiliyah kepada Islam, dari kesempitan dunia kepada keluasannya. Dari kekejaman agama-agama yang sesat, sistem-sistem yang zalim, mazhab-mazhab yang tidak menentu, kepada keadilan Islam dan lembayungnya.
Faktor yang membawa kita kepada amal dan jihad hanyalah untuk menunaikan perintah Allah dan kemenangan pada Hari Akhirat. Juga kerana apa yang Allah sediakan untuk hamba-hambaNya dari ganjaran dan pahala. Kemudian, faktor lain ialah simpati kepada makhluk, kasihan kepada insan yang terseksa, dan keinginan terhadap keselamatan manusia.Jika pada satu peringkat dakwah, atau pada satu masa setelah prinsip-prinsip dakwah dan akidah kukuh dalam jiwa pendakwah – tujuan dakwah tidak dapat dicapai melainkan dengan mendapatkan kerajaan, kita akan berusaha untuk mendapatkannya. Demi kemaslahatan dakwah. Dengan jiwa yang luhur dan bersih, benar dan amanat, kusyuk dan tulus, seperti kita bersungguh dalam tanggungjawab dan rukun agama, juga ibadah-ibadah yang lain. Tiada beza bagi seorang mukmin antara kerajaan dan ibadah yang lain, jika telah ikhlas dan betul niatnya. Kesemua itu dalam redha Allah, kesemuanya pada jalan Allah. Kesemuanya ibadah yang mendekatkan diri kepada Allah.
-Al-Qaradawi, Al-Syeikh Abu al-Hasan al-Nadwi kama ‘araftu, m.s.122-125, Damsyik: Dar al-Qalam.
Labels:
ikhwanul muslimin,
nasihat,
ulama,
ulama ahlul bait
Friday, 25 May 2012
Jenazah Utuh Al-Allamah Syeikh As-Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki
Oleh: Ustaz Sya'roni As-Samfuriy
http://www.facebook.com/syaroni.assamfury
~Setahun pasca wafatnya Habib As-Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki~
As-Syeikh Habib Muhammad bin 'Alwi Al-Maliki Al-Hasani Mekkah, orang-orang Wahabi yang berniat mau menghinakan Habib Muhammad, karena kebiasaan di Mekkah jika jenazah sudah hancur maka akan dipindah ke tempat lain agar kawasan lama dimasukkan jenazah yang baru; kemudian orang Wahabi melakukan penggalian makam beliau, awalnya mereka berharap agar apa yang mereka temukan pasca 1 tahun adalah jenazah yang sudah hancur, tapi apa dikata?
Ternyata tidak sesuai dengan perkiraan sebelumnya, jenazah As-Syeikh Habib Muhammad Alawi masih utuh.
~2 tahun kemudian, mereka menggali kembali makam Habib Muhammad, apa dikata? jenazah masih tetap utuh, bahkan rambut dan kuku beliau terlihat tumbuh panjang.
~5 tahun kemudian, dilakukan hal yang sama, dan ternyata jenazah beliau masih utuh, bahkan tercium aroma wangi yang wanginya melebihi wanginya kayu gaharu
Subhanallah. Kejadian ini sudah mentaubatkan orang Wahabi.
Sumber: Al-Habib Segaf bin Hasan Baharun (Bangil).
http://www.facebook.com/syaroni.assamfury
~Setahun pasca wafatnya Habib As-Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki~
As-Syeikh Habib Muhammad bin 'Alwi Al-Maliki Al-Hasani Mekkah, orang-orang Wahabi yang berniat mau menghinakan Habib Muhammad, karena kebiasaan di Mekkah jika jenazah sudah hancur maka akan dipindah ke tempat lain agar kawasan lama dimasukkan jenazah yang baru; kemudian orang Wahabi melakukan penggalian makam beliau, awalnya mereka berharap agar apa yang mereka temukan pasca 1 tahun adalah jenazah yang sudah hancur, tapi apa dikata?
Ternyata tidak sesuai dengan perkiraan sebelumnya, jenazah As-Syeikh Habib Muhammad Alawi masih utuh.
~2 tahun kemudian, mereka menggali kembali makam Habib Muhammad, apa dikata? jenazah masih tetap utuh, bahkan rambut dan kuku beliau terlihat tumbuh panjang.
~5 tahun kemudian, dilakukan hal yang sama, dan ternyata jenazah beliau masih utuh, bahkan tercium aroma wangi yang wanginya melebihi wanginya kayu gaharu
Subhanallah. Kejadian ini sudah mentaubatkan orang Wahabi.
Sumber: Al-Habib Segaf bin Hasan Baharun (Bangil).
Labels:
biografi ulama,
habib,
jenazah,
kisah pengajaran,
status facebook islamik,
sufi,
tasawwuf,
tolak wahhabi-salafi,
ulama,
ulama ahlul bait,
ulama hadith
Saturday, 19 May 2012
Habib Sa'd: Habib Muhammad ibn Alawi Al-Aydrus
By: Brother Taahir Abdur Rahim
http://www.thefinalbrick.blogspot.com/2011/10/habib-muhammad-ibn-alawi-al-aydarus.html

http://www.thefinalbrick.blogspot.com/2011/10/habib-muhammad-ibn-alawi-al-aydarus.html

Habib Muhammad ibn 'Alawi al-'Aydarus (1932-2011)
Thousands of the people of Tarim and Hadramawt came out at `Asr on Juma` for the janaza of Habib “Sa`d” Muhammad bin `Alawi al-`Aydarus, who passed away the previous day, Thursday 8th Dhu’l-Qa`dah/6thOctober 2011 at the age of 82.
Before the janaza, Habib Umar bin Hafiz and Habib Salim bin `Abdullah al-Shatiri addressed the crowd, recounting the exploits of this great Imam and calling the people to return to Allah and hold fast to the inheritance of the their predecessors.
He was then buried in the Zanbal graveyard next to the Qubbah of his ancestor, Imam `Abdullah bin Abu Bakr al-`Aydarus.
In his mawlid speech the night before Sayyidi al-Habib Umar bin Hafiz (may Allah preserve him) commemorated the life of Habib Sa`d. What follows is a summary of Habib `Umar’s words with some extra detail for clarification.
He mentioned that he was someone who had an immense connection to his predecessors (Salaf), to the Qur’an, to the mosques and to the remembrance of Allah. He had great love for Allah and His Messenger and the pious people. He had great humility and a constant desire to help and benefit others, and he possessed a big portion of the Prophetic legacy.
He returned to Tarim after four years in a socialist prison in Aden. Just as Sayyiduna Yusuf was given authority over the land of Egypt after his time in prison, Habib Sa`d was entrusted with religious authority in Tarim. He became imam of the great Masjid of Shaykh `Abd al-Rahman al-Saqqaf and remained Imam for 35 years, presiding over the Hadara which is held there twice a week. He re-opened the Qubbah of Abu Murrayam, a school for the memorisation of the Qur’an which had been established six hundred years previously but closed by the socialists. Thousands of students subsequently memorised the Qur’an at his hands.
Like his predecessors amongst the scholars of the Ba `Alawi way, he had veneration for Imam al-Ghazali’s Ihya’ `Ulum al-Din. He presided over the reading of the Ihya` every Monday in the Qubbah of Imam `Abdullah bin Abu Bakr al-`Aydarus. Just days before his death he was given copies of a new print of the Ihya` and he spent his last hours with this great work in his hand.
A big portion of his life was spent with the mushaf or masbaha (prayer beads) in his hand or bowing or in prostration. For years he would go in the second half of the night to pray in Masjid Ba `Alawi and then go to Masjid al-Saqqaf to read the Qur’an with the group before Fajr. Only illness towards the end of his life prevented him from continuing in his daily and nightly programme.
Out of his mercy and softness of his heart he began to compile small books on many subjects that he hoped would be of benefit to people. He compiled one book after another, and they spread far and wide.
His Book of Intentions was translated into English and when we were in Europe and America we were given copies to give out to people. Light would enter people’s hearts when they read such a book, because he compiled it with a pious intention.
When we look at the life of Habib Sa`d we must reflect on how we use our time and prepare for the meeting with Allah. Many people die worshipping power or fame or die in evil places or amongst heedless people. Allah give us the best of endings and make us firm on la ilaha ill’Allah.
May Allah reward him on behalf of this city, the people of Islam and the people of this time. May Allah grant him the best entry to the Barzakh and the ability to intercede for many.


Friday, 18 May 2012
Jangan Ada Dendam dan Benci
Oleh: Ustaz Anwar Shazali
http://anwarshazali.blogspot.com/2012/02/jangan-ada-dendam-dan-benci.html#more
Hayatilah apa yang dikisahkan oleh Habib Munzir al-Musawa tentang gurunya Habib Umar Bin Hafiz yang tidak sekali-kali menunjuk dendam mahupun benci apatah lagi berlaku jahat kepada orang yang membencinya dan membenci majlis-majlis Maulid baginda Sayyidina Muhammad s.a.w.
http://anwarshazali.blogspot.com/2012/02/jangan-ada-dendam-dan-benci.html#more
Hayatilah apa yang dikisahkan oleh Habib Munzir al-Musawa tentang gurunya Habib Umar Bin Hafiz yang tidak sekali-kali menunjuk dendam mahupun benci apatah lagi berlaku jahat kepada orang yang membencinya dan membenci majlis-majlis Maulid baginda Sayyidina Muhammad s.a.w.
Tidak pernah diajarkan oleh para guru yang dimuliakan kepada kita untuk berlaku jahat sekalipun kepada orang-orang yang berlaku jahat kepada kita atau kepada orang-orang yang kita sayangi atau muliakan. Bahkan dibalas pula dengan kebaikan oleh kita kepada mereka. Para guru yang dimuliakan benar-benar mengambil percontohan daripada sifat kasih dan belas baginda Sayyidina Muhammad s.a.w.
Sekalipun berdarah kepala baginda Sayyidina Muhammad s.a.w. dilempar batu oleh penduduk Toif, namun tidak pula baginda Sayyidina Muhammad s.a.w. membenarkan Malaikat Jibril a.s. menterbalikkan tanah Toif itu melainkan dihadiahkan oleh baginda Sayyidina Muhammad s.a.w. kepada mereka dengan doa sejahtera seorang Nabi dan Rasul yan mulia.
Tidak pernah pula diajarkan kepada kita oleh para guru yang kita muliakan untuk menyimpan dendam mahupun benci. Sebesar manapun dendam dan benci orang-orang kepada kita atau kepada orang-orang yang kita sayangi atau muliakan, bukanlah lesen untuk kita menyimpan dendam dan benci terhadap sosok diri mereka. Adapun yang kita benci sekalipun kepada mereka adalah perbuatan mereka kerana bencinya Allah s.w.t. dan baginda Sayyidina Muhammad s.a.w. kepada perbuatan mereka.
Apatah lagi kepada sesama saudara (seagama) kita. Apakah kita tidak diperingatkan oleh baginda Sayyidina Muhammad s.a.w.;
"Tidak sempurna iman kamu sehinggalah kamu mengasihi saudara kamu seperti kamu mengasihi dirimu sendiri" (H.R. Bukhori dan Muslim)Baginda Sayyidina Muhammad s.a.w. turut bersabda;
"Barang siapa yang tidak menyayangi, dia tidak akan disayangi" (H.R. Muslim)
Maka, apakah hak kita untuk menyimpan dendam dan benci serta berlaku jahat kepada sesiapa pun sekiranya itu bukanlah apa yang diajarkan oleh para guru yang dimuliakan daripada pencontohan baginda Sayyidina Muhammad s.a.w.
Seharusnya, semakin lama kita mengambil manfaat ajaran dan didikan daripada para guru yang dimuliakan, maka semakin hampirlah kita kepada akhlak mereka yang menghampiri akhlak baginda Sayyidina Muhammad s.a.w. Dengan hampirnya kita kepada akhlak baginda Sayyidina Muhammad s.a.w., maka tentu sekali meningkat pula ketakwaan kita kepada Allah s.w.t. Kerana sesungguhnya;
Hayati pula tausiyah daripada Habib Ali al-Jufri tentang keikhlasan dalam mencari takwa. Yang diukur pada kita yang berusaha untuk mendalami agama, bukanlah pada imej kita tetapi pada yang terzahir daripada akhlak kita. Jangan sampai kerana kita, fitnah tertimpa ke atas para guru yang dimuliakan. Lebih malang lagi, sekiranya kerana kita, fitnah tertimpa ke atas baginda Sayyidina Muhammad s.a.w.
Biarlah kita mengikut resam padi, semakin berisi maka semakin tunduk ke bumi. Teringat Habib Izzudin al-Aidrus, guru yang dimuliakan mengkisahkan akhlak Habib Umar Bin Hafiz apabila didatangi manusia yang tidak sedikit jumlahnya hanya sekadar untuk bercerita atau menunjuk, Habib Umar Bin Hafiz hanya akan tersenyum menghadap mereka sambil mengurut janggutnya tanpa mencelah walau sepatah apa pun. Malah dalam salah satu kisah, pertanyaan Habib Umar Bin Hafiz terhadap indahnya bangunan di sebuah kota telah menjadi sebab datangnya hidayah Allah s.w.t. sehinggakan yang ditanyakan itu memeluk Islam.
Cocok benar dengan percontohan baginda Sayyidina Muhammad s.a.w. seperti yang diriwayatkan oleh 'Amru Bin 'As r.a.;
"... Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti." (al-Hujurat:13)
Biarlah kita mengikut resam padi, semakin berisi maka semakin tunduk ke bumi. Teringat Habib Izzudin al-Aidrus, guru yang dimuliakan mengkisahkan akhlak Habib Umar Bin Hafiz apabila didatangi manusia yang tidak sedikit jumlahnya hanya sekadar untuk bercerita atau menunjuk, Habib Umar Bin Hafiz hanya akan tersenyum menghadap mereka sambil mengurut janggutnya tanpa mencelah walau sepatah apa pun. Malah dalam salah satu kisah, pertanyaan Habib Umar Bin Hafiz terhadap indahnya bangunan di sebuah kota telah menjadi sebab datangnya hidayah Allah s.w.t. sehinggakan yang ditanyakan itu memeluk Islam.
Cocok benar dengan percontohan baginda Sayyidina Muhammad s.a.w. seperti yang diriwayatkan oleh 'Amru Bin 'As r.a.;
"Rasulullah s.a.w. menghadapkan wajah dan perbicaraannya (memberikan perhatian) kepada sejahat-jahat kaum untuk menjinakkan hati mereka. Rasulullah s.a.w. juga menghadapkan wajah dan perbicaraannya kepadaku sehinggakan aku merasa bahawa aku adalah sebaik-baik kaum (manusia)..." (dipetik daripada Kitab Syamail Muhammad karangan Imam al-Tirmizi)Saya menulis sebagai pesan muhasabah buat diri sendiri dan semoga ada manfaatnya buat sahabat-sahabat pembaca. Tiada lain yang saya doakan ketika ini melainkan kesatuan dan perpaduan kita para pendukung agama biar berbeza mana sekalipun dalam jalan dakwah yang kita pilih, namun biarlah kita utamakan matlamat dakwah kita yang tiada bezanya. Daripada Allah s.w.t. kita datang dan kepada Allah jualah kita dikembalikan.
Labels:
habib,
sufi,
tasawwuf,
tolak wahhabi-salafi,
ulama ahlul bait,
video
Subscribe to:
Posts (Atom)
